Festival Budaya 2026: Mappalisu Sumange, Merawat Warisan, Menyatukan Kebersamaan
Di tengah derasnya arus modernisasi, budaya sering kali hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu. Padahal, budaya adalah cara sebuah masyarakat mengenal dirinya, memahami sejarahnya, dan menentukan arah masa depannya. Ketika sebuah generasi mulai asing dengan budayanya sendiri, yang perlahan memudar bukan hanya tradisi, tetapi juga identitas yang selama ini menjadi pijakan.
Berangkat dari kegelisahan itulah, HIPERMAWA KOPERTI PNUP menghadirkan Festival Budaya 2026 Sebuah ruang yang tidak hanya mengajak masyarakat menikmati pertunjukan seni, tetapi juga mengajak untuk kembali mengenal, memahami, dan mencintai warisan budaya Wajo sebagai bagian dari jati diri yang patut dijaga bersama.
Mappalisu Sumange memiliki makna membangkitkan kembali semangat. Bukan sekadar semangat menyelenggarakan sebuah festival, melainkan semangat untuk menghidupkan kembali nilai-nilai yang diwariskan oleh para leluhur. Nilai tentang kebersamaan, musyawarah, penghormatan terhadap sesama, hingga semangat siri' na pacce yang sejak dahulu menjadi fondasi kehidupan masyarakat Bugis.
Selama tiga hari penyelenggaraan, Festival Budaya 2026 menghadirkan berbagai rangkaian kegiatan yang dirancang untuk melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Perlombaan bagi pelajar SMA/SMK sederajat, permainan tradisional bagi masyarakat Tosora, workshop budaya bersama maestro, pertunjukan seni, hingga pameran kuliner lokal menjadi bagian dari upaya menghadirkan budaya dalam bentuk yang lebih dekat, lebih hidup, dan lebih mudah diterima oleh generasi hari ini.
Dipilihnya Desa Tosora sebagai lokasi penyelenggaraan bukanlah tanpa alasan. Tosora menyimpan jejak panjang peradaban Wajo yang menjadi saksi lahirnya nilai-nilai demokrasi, musyawarah, dan kehidupan sosial yang masih relevan hingga saat ini. Melalui festival ini, ruang-ruang bersejarah tersebut kembali dihidupkan sebagai tempat belajar, berkarya, dan membangun kesadaran bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk terus dihadirkan dalam kehidupan sehari-hari.
Festival ini menjadi ruang kolaborasi yang mempertemukan pelajar, mahasiswa, pelaku seni, budayawan, pelaku UMKM, masyarakat, pemerintah, dan berbagai elemen lainnya dalam satu tujuan yang sama: menjaga agar budaya tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman.
Kami menyadari bahwa setiap proses tidak pernah luput dari berbagai tantangan. Berbagai apresiasi, kritik, dan masukan yang kami terima selama penyelenggaraan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran. Semua itu akan menjadi bahan evaluasi agar setiap langkah yang kami ambil ke depan mampu menghadirkan ruang kebudayaan yang lebih baik dan lebih bermakna.
Akhirnya, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia, mitra, sponsor, peserta, penampil, masyarakat, serta seluruh pihak yang telah mengambil bagian dalam perjalanan Festival Budaya 2026. Kehadiran, dukungan, dan kepercayaan yang diberikan telah menjadikan festival ini bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah ikhtiar bersama untuk menjaga warisan yang telah dititipkan oleh para leluhur.
Karena pada akhirnya, budaya tidak akan hilang hanya karena zaman berubah. Budaya akan benar-benar hilang ketika generasinya berhenti mengenal, berhenti mempelajari, dan berhenti merasa bangga terhadapnya. Semoga Mappalisu Sumange menjadi satu langkah kecil yang terus menyalakan semangat itu, bukan hanya dalam acara besar, tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita masing-masing. Karena pada akhirnya, budaya hidup bukan dalam panggung atau museum. Budaya hidup dalam sikap kita hari ini, dalam pilihan kita untuk belajar dan menghargai, dan dalam komitmen kita untuk meneruskan warisan ini kepada generasi berikutnya.
Krismayana Ibrahim

Belum ada Komentar untuk "Festival Budaya 2026: Mappalisu Sumange, Merawat Warisan, Menyatukan Kebersamaan"
Posting Komentar